Sepatah Dua Puluh Patah Kata

Don't waste your time or time will waste you

Thursday, February 14, 2008

BIARKAN UNGU TIDAK JADI ABU”

UNHAS Adalah sebutan untuk universitas terbesar di Indonesia Timur yang terkenal dengan Ayam Jantannya. Masuk di Universitas ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang anak manusia yang baru saja meninggalkan seragam putih abu-abunya. Universitas ini terdiri dari berbagai fakultas yang di antaranya adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ungu ini merupakan salah satu fakultas yang terkenal memiliki banyak jurusan.
Bagi masyarakat Ungu prospek dan ranah kerja jurusan tersebut sudah jelas diketahui benang merahnya. Di Lingkaran Ungu ini pemilihan jurusan diadakan ketika Mahasiswa Ungu menginjakkan kakinya pada semester empat. Hal tersebut dimaksudkan agar output dari masyarakat Ungu mampu memiliki Basic Knowledge dari ilmu Kesehatan Masyarakat secara menyeluruh.
Sungguh renstra (Rencana Strategis) yang matang dan pemberian bekal yang cukup jitu untuk menyiapkan SKM-SKM yang mampu menjawab tantangan di masyarakat kelak. Namun dalam dua generasi terakhir ini sedikit terjadi perubahan di mana masyarakat Ungu yang berada dalam pergulatan peminatan jurusan sesuai hati “nurani dulunya” kini berbalik arah menjadi pergulatan “tampa nurani”
Sekarang saya harus belajar memiliki, meskipun susah untuk memulai rasa memiliki itu. Ujar salah seorang Masyarakat Ungu
Pasrana iyya’ kasi’na loni di aga, totoku to kapang… (Tutur salah seorang Masyarakat Ungu hanya bisa pasrah karena terjerumus pada pilihan keduanya)
Yah kasi begitumi saja deh.. cape’ma saya.
Untung aku tepat jatuh pada jurusan yang ku inginkan, kalau tidak tidak ku taumi bagaimanami kodong nasibku…

Masih banyak keluh kesah yang tidak bisa diucapkan ……
Masih banyak kekesalan yang tak dapat digoreskan dengan pena….
Pemilihan jurusan mungkin menjadi hal yang mudah bagi mereka yang tidak menjalaninya, hanya dengan menutup mata atau mungkin dengan penghitungan kancing baju satu Jurusan telah ada di pikiran mereka. Hal tersebut berbeda dengan mereka yang menjalani, keselarasan antara bakat dan minat harus sejalan untuk menghasilkan output yang maksimal. Tidak dapat dielakkan pemikiran panjang pemilih penuh dengan pergulatan pemikiran dan merupakan wajarisasi dalam dunia pilih memilih.
Namun pemikiran panjang dua tahun terkhir ini berubah dengan hanya membutuhkan 5-10 menit atau bahkan 1 menit saja bagi mereka yang selaku “pengarah garis masa depan” mampu menentukan garis masa depan sebagian masyarakat Ungu dengan tidak mengungukan obsesi pemilih tapi malah mengabu-abukan bahkan tidak sedikit dari pemilih yang tidak jelas warna bentukannya karena tidak adanya keselarasan antara jurusan dan minat.
Apakah Output yang dihasilkan dari suatu keputusan dadakan akan lebih baik di bandingkan dengan pengambilan keputusan yang di putuskan berdasarkan perencanaan yang matang ???
Apakah anda tahu, siapakah yang lebih tahu tentang diri mereka ???
Apakah anda tahu relevansi anatara jurusan dan minat sangat dibutuhkan ???
Apakah anda tahu siapa yang akan menjalani semua ini???
Terakhir… Apakah anda akan mendampingi mereka untuk menjalani semua ini, meniti masa depan dengan keahlian yang dipilihkan… ataukah…setelah anda menggoreskan ketetapan kemudian berlari marathon meninggalkan mereka dengan “senyum penuh artiiiiiii…..???”

Demikian beberapa pertanyaan yang mungkin perlu untuk ditanggapi….
Dan………

MUNGKINKAH KEBIJAKAN AKAN DITINJAU KEMBALI???


“Kusuma”
Mahasiswa FKM 05

1 comment:

Anonymous said...

wah kusuma, tulisan yang menarik. btw jangan kamu ja yang nulis ajak teman-teman yang lain wat ikutan nulis. chayo. red devil